3 Fakta di Balik Menerbitkan Buku Secara Indie?

3 minggu yang lalu      Penerbitan Indie

Saya tidak tahu, sejak kapan istilah penerbitan indie, penerbitan independent, atau self-publishing populer dan lalu menjadi semacam antitesa dari penerbitan mayor. Istilah yang saya sebut terakhir pun, saya tidak tahu sejak kapan persisnya tiba-tiba muncul dan populer. Tapi saya kira, istilah penerbitan indie dan mayor lahir beriringan.

Penerbitan mayor adalah istilah untuk menyebut “menerbitkan buku ke penerbit yang seluruh biaya dan proses penerbitannya ditanggung oleh penerbit tersebut, termasuk pemasarannya, sementara penulis terima jadi dan tinggal nunggu royalti yang dihitung dari buku karyanya yang terjual.”   

Sementara penerbitan indie adalah istilah untuk menyebut “menerbitkan buku yang seluruh biaya dan proses penerbitannya, termasuk pemasarannya, ditanggung sendiri oleh penulisnya.” Jadi, sesungguhnya, dalam penerbitan indie, penulis sekaligus berposisi sebagai penerbit. Di sinilah kemudian istilah writerpreneur menyusul muncul. Writerpreneur merupakan kombinasi dari kata writer (penulis) dan entrepreneur (wirausahawan). Sehingga ketika Anda menerbitkan buku secara indie, sesungguhnya Anda adalah penulis sekaligus seorang entrepreneur yang akan ‘menjual’ naskah atau buku Anda sendiri ke pasar.

Konsep penerbitan indie seperti itulah yang pada tahun 2000-an saya kenal dari seorang bernama Toha Nasrudin. Lelaki asal Bandung ini merintis bisnis penerbitannya secara indie dengan menerbitkan buku-buku karyanya sendiri.

Lalu saya kenal Yudi Pramuko yang mengusung konsep serupa. Ia mendirikan penerbit Taj Mahal dengan menerbitkan karya-karyanya sendiri. Bahkan Yudi Pramuko termasuk ‘komporis’ buku yang sering memotivasi penulis untuk menerbitkan sendiri karyanya dan tidak menyerahkannya ke penerbit. Menjadi penulis sekaligus pengusaha (writerpreneur).   

Dalam perkembangannya, dalam amatan saya, penerbitan indie kemudian bergeser, dari “seorang penulis yang membiayai dan menerbitkan sendiri karyanya dengan bendera penerbitannya sendiri”, ke “seorang penulis yang membiayai sendiri penerbitan karyanya, namun menyerahkan secara totality proses penerbitannya ke pihak lain”.

Maka, kemudian, menjamurlan lembaga-lembaga penerbitan indie yang melayani jasa penerbitan indie. Melayani para penulis yang mau membiayai sendiri penerbitan bukunya, namun tidak biasa atau tidak kuasa menjalani proses penerbitan bukunya. Itulah fakta yang saat ini terjadi. Sahkah fenomena seperti itu?

Menurut saya, sah-sah saja. Bahkan penerbitan indie model seperti itu merupakan keniscayaan. Apalagi di tengah berkembangnya teknologi percetakan yang bisa mencetak buku dengan kualitas bagus secara POD (print on demand). Di sisi lain, tak semua penulis punya nyali untuk membuat lembaga penerbitan sendiri dan mau repot mengurusi proses penerbitan yang mungkin cukup ribet, sejak mengurus ISBN, melayout naskah, mendesain kaver, dan lain sebagainya.

Setidaknya ada tiga fakta yang menjadikan penerbitan indie model begitu sah dan akan terus berkembang.

Pertama; faktanya, tidak semua naskah dengan tema tertentu dilirik oleh penerbit mayor, karena dianggap tidak laku jual. Masuk dalam kategori ini adalah buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen, bahkan novel (biasanya karya penulis pemula dan temanya dianggap tidak seksi). Juga naskah hasil penelitian, dan semisalnya. Maka pilihan pintas bagi penulis yang ingin menerbitkan buku-buku jenis ini adalah dengan menerbitkannya lewat jalur indie. Tak ada jalan lain.

Kedua; di sisi lain, selain tidak terakomodasi oleh penerbit mayor, juga tujuan penerbitannya seringkali bukan untuk tujuan komersial, terutama bagi guru dan dosen. Mereka menerbitkan naskahnya untuk mengejar poin atau kum. Karenanya cetaknya terbatas. Dan itu jalurnya tentu jalur penerbitan indie.

Ketiga; tak sedikit naskah penulis yang bolak-balik ditolak penerbit mayor. Dengan berbagai pertimbangan tentunya. Maka, solusi cesplengnya tentu dengan menerbitkannya lewat jalur indie. Naskah yang bolak-balik ditolak penerbit mayor bukan berarti tidak bagus. Barangkali belum klik dengan ‘selera’ penerbit. Dan dengan menerbitkan buku secara indie, siapa tahu di situ justru awal letak suksesnya.

Buku “Kudung Gaul: Berjilbab tapi telanjang” karya Toha Nasrudin awalnya ditolak beberapa penerbit. Namun setelah diterbitkan sendiri, malah menuai sukses. Bukunya laris manis bak kacang goreng dan menembus angka penjualan cukup fantastis lebih dari 100 ribu eksemplar.

Jadi, menerbitkan buku secara indie? Sah-sah saja sebagai sebuah pilihan.* (Ditulis oleh Kang Asti, editor in chef penerbit Oase Qalbu Group). Sumber ilustrasi: http://www.publishingtalk.eu

 

Layanan jasa penerbitan indie berkualitas:

PUSTAKA NUSANTARA

Hub via WA: 081347014686

 



Artikel Terkait



Komentar Artikel "3 Fakta di Balik Menerbitkan Buku Secara Indie?"